Rabu, 16 November 2016

Review Battlefield 1 – Sebuah Kisah tentang Perang

Selama bertahun-tahun Battlefield dan Call of Duty sudah berperang untuk menduduki takhta First Person Shooter terbaik. Namun pada kenyataannya keduanya sebenarnya saling melengkapi. Jika Call of Duty menghadirkan sesuatu yang lebih cepat dan wah, Battlefield memilih untuk menghadirkan sesuatu yang lebih realistis, dan lewat seri terbarunya Battlefield 1, sebuah emosi.

Perang itu kejam

Perang Dunia pertama adalah sebuah sejarah kelam dunia yang terjadi pada tahun 1914 sampai dengan 1918. Kebanyakan orang setidaknya pernah mendengar tentang perang ini dan itu menjadi sebuah dasar yang cukup untuk menjalankan mode Campaign Battlefield 1.
Saya menghindarkan kata “menikmati” karena Battlefield 1 penuh dengan cerita manusia yang bervariasi. Kamu akan memerankan berbagai macam prajurit dengan motivasi yang berbeda-beda. Namun dalam sebuah perang besar, korban jiwa adalah sesuatu yang pasti.
Battlefield 1 Campaign Single Shooter
Battlefield 1 membagi cerita utamanya menjadi enam bagian besar dengan waktu bermain sekitar satu jam untuk masing-masing bagian. Ini adalah cara yang lebih pintar untuk membuat pemain merasakan berbagai aspek dari sebuah perang, tanpa harus membuat sebuah tokoh menjadi hero super yang dapat mengendalikan apa saja mulai dari menembak musuh yang berjarak ratusan meter, mengendalikan tank, sampai menjadi pilot pesawat terbang.
Setiap bagian cerita juga mempunyai fokus yang lebih jelas. Misalnya seperti bagian “Friends in High Places” yang menceritakan tentang seorang pilot dengan hobi berjudi, menipu, dan melakukan banyak hal-hal gila. Kamu akan lebih banyak menerbangkan pesawat tempur yang jauh dari kata modern. Saya ingat menghabiskan begitu banyak waktu untuk melakukan misi yang sebenarnya sangat sederhana.
Saya langsung tahu bahwa ini akan menjadi bagian cerita yang paling saya benci karena kontrolnya yang sulit. Namun Battlefield 1 berhasil mengejutkan saya ketika cerita sudah berlanjut lebih jauh. Sekarang saya bisa mengatakan bahwa Friends in High Places” adalah bagian cerita yang paling seru dan, di saat yang sama, juga spektakuler. Di akhir cerita kamu akan duduk melihat adegan sinematik yang begitu indah dan merasakan wow karena telah menjadi bagian dari cerita yang luar biasa.
Battlefield 1 Misi Udara
Bagian cerita lain juga akan mengizinkan kamu untuk mencoba tank baja yang mampu meratakan berbagai bangunan dengan kekuatan besarnya, atau menjadi seorang pelari yang bertugas mengantarkan pesan ke barisan depan.
Seiring kamu memainkan mode Campaign, kamu juga akan mengetahui keterbasan yang ada di tahun 1900 dan bagaimana negara-negara berusaha mengatasinya dengan berbagai cara yang sederhana atau primitif dibandingkan standar kita sekarang.
Battlefield 1 bukanlah sebuah game mengenai tembak-menembak. Battlefield 1 adalah sebuah cerita mengenai perang dan perang tidak dimenangkan dengan senjata saja. Game ini dengan pintar mengemas berbagai aspek perang dalam skala besar, sekaligus menyelipkan sebuah emosi manusia yang dibawa oleh setiap tokoh yang ada. Setiap karakter terlihat nyata dan kamu bisa melihat bahwa mereka telah melewati banyak hal dalam peperangan ini.
Battlefield 1 Ekspresi Karakter

Tampilan epik

Mengetahui bahwa Battlefield 1 dikembangkan oleh EA Dice yang juga mengerjakan Star Wars Battlefront dengan gambarnya yang begitu bagus, saya mengharapkan hal yang sama atau bahkan lebih, dan Battlefield 1 tidak mengecewakan saya. Semuanya terlihat sangat realistik dan megah, sangat sulit untuk tidak tenggelam di medan perang.
Saya masih dapat mengingat bagaimana pesawat jatuh menabrak bangunan yang ikut hancur. Kamu tidak akan merasa bahwa lingkungan sekitar hanyalah sebuah ruangan pembatas namun turut berubah seiring kamu berperang.
Mulai dari sebuah dataran luas yang indah, menyelusuri parit buatan musuh, sampai dengan menyusuri kota yang sedang hancur, kamu akan selalu dibuat penasaran tentang apa lagi yang akan kamu susuri dalam misi selanjutnya.
Dengan skalanya yang besar, EA Dice bisa dengan mudah membuat mode Campaign Battlefield 1 menjadi sepuluh jam. Namun keputusan untuk membuatnya pendek dan penuh momen berkualitas adalah keputusan yang tepat. Tanpa ragu, mode Campaign Battlefield 1 adalah salah satu FPS dengan cerita dan presentasi terbaik yang pernah saya mainkan.
Battlefield Cinematic Building

Bermain perang

Mode Campaign Battlefield 1 sangatlah memuaskan, namun itu hanyalah pencuci mulut yang yang manis. Makanan utamanya adalah mode multiplayer di mana kamu dapat menghabiskan ratusan jam melatih refleks dan membawa tim ke dalam kemenangan.
Bagi kamu yang pernah memainkan seri Battlefield sebelumnya, Battlefield 1 tidaklah jauh berbeda. Mode multiplayer dibagi menjadi lima katergori yaitu Conquest, Domination, Rush,  Team Deathmatch, dan War Pigeons.
Tentu saja Conquest adalah mode yang paling menarik karena melibatkan 64 orang dalam satu peta yang sangat besar. Pada awalnya mode ini terasa terlalu besar dan membingungkan, namun begitu kamu mengerti cara kerjanya kamu akan mulai menikmati perang dalam skala besar ini.
Battlefield 1 | Trench
Domination dan Rush mempunyai fokus yang lebih kecil dengan gameplay yang lebih cepat namun tetap membutuhkan koordinasi. Sedangkan dalam Team Deathmatch, kamu hanya punya satu tujuan, tembak semua yang bergerak untuk menang.
Mode yang cukup menarik adalah War Pigeons, di mana akan ada burung merpati yang muncul secara acak, dan kamu beserta tim lawan harus secepat mungkin menemukannya, menulis pesan, dan menerbangkannya sehingga tim pendukung dapat melancarkan serangan udara. Uniknya adalah ketika merpati ini mencoba terbang, kamu dapat menembaknya sehingga gagal dan menunggu merpati lain muncul secara acak.
Kombinasi mode gameplay yang bisa dibilang sedikit ini sebenarnya terasa sangat pas dan tidak memaksakan. Jika saja jumlah mode yang ada lebih banyak, maka kamu juga akan kesulitan untuk bermain mode-mode tertentu yang kurang populer, seperti Team Deathmatch, karena akan membutuhkan waktu menunggu yang lebih lama dibandingkan mode seperti Conquest yang tampaknya merupakan favorit semua orang.
Battlefield 1 | Horse
Kunci untuk menikmati multiplayer Battlefield 1 adalah mengerti bahwa kerja sama tim adalah hal yang penting. Di sinilah empat kelas karakter akan saling mengisi dan mendukung satu sama lain. Assault dengan senjata penyerangnya, Support dengan kemampuannya untuk memperbaiki kendaraan dan menyediakan amunisi, Medic dengan kelebihan untuk membawa yang mati hidup kembali, dan Scout yang berkontribusi dari jarak jauh.
Pembagian kelas ini bukanlah sesuatu yang baru, namun Battlefield 1 benar-benar memikirkan secara matang bagaimana setiap orang mempunyai perannya masing-masing. Ambil contoh Medic yang dapat membangkitkan prajurit yang sudah tumbang. Dengan peta yang besar, berjalan kembali ke titik peperangan akan memakan waktu, dan hal tersebut sering digunakan musuh untuk mengambil kesempatan.
Dalam kondisi seperti, Medic dapat membantu momentum penyerangan ataupun pertahanan untuk terus berjalan. Di sisi lain, Support mempunyai senjata otomatis dengan kapasitas yang banyak untuk memberikan tembakan perlindungan selama Medic melakukan tugasnya.
Support juga dapat membetulkan tank yang mempunyai peran penting dalam menekan dan melindungi prajurit lain ketika mendominasi sebuah titik. Sedangkan Assault mempunyai granat anti tank yang, tentu saja, dapat menghancurkan tank.
Penembak jitu (sniper) adalah kelas favorit saya dalam game FPS apa pun, dan di Battlefield 1 penembak jitu membutuhkan sebuah penjelasannya sendiri. Dengan peta yang begitu besar, Battlefield 1 adalah tempat bermain bagi penembak jitu.
Battlefield 1 | Sniper Screenshot
Namun keuntungan ini hanya bisa didapatkan dengan latihan yang sangat banyak. Battlefield 1 mempunyai sistem bullet drop yang artinya semakin jauh target tembakan, maka peluru akan semakin lemah dan juga menurun karena gravitasi.
Jadi, ada dua faktor penting yang harus diperhatikan sebelum menembak, sejauh apa musuh dan arah gerakan dari musuh. Dalam tiga jam pertama saya, tembakan yang kena bisa dibilang hasil keberuntungan atau karena musuh sedang benar-benar diam. Namun seiring saya menambah jam terbang saya, tembakan menjadi lebih konsisten dan terarah.
Keberadaan kamu yang tersembunyi dan relatif aman juga menjadi kekuatan besar untuk membantu tim. Jika kamu melihat musuh, kamu dapat memberitahu rekan sekitar sehingga mereka juga dapat mengenalinya.
Kepuasan saya dalam memainkan kelas Scout tidak didapat dari berapa banyak yang orang saya bunuh (lagipula sangat sulit memainkan Scout di sini). Namun, begitu ada musuh yang begitu jauh dan kamu berhasil membunuhnya dengan headshot setelah melakukan banyak perhitungan dan latihan, kamu akan merasa seperti di puncak dunia. Setelah sebuah ronde yang rata-rata berlangsung 30-40 menit, momen fantastis seperti inilah yang teringat dan berkesan.
Battlefield 1 | Flamethrower

Kesimpulan

Battlefield 1 bukanlah FPS yang kasual. Dengan recoil yang cukup tinggi (bayangkan teknologi senjata di tahun 1900), kamu akan dituntut untuk berlatih dengan mengenali karakteristik dari senjata yang kamu pegang. Namun setelah belasan jam melatih refleks dan juga peran kamu dalam tim, multiplayer Battlefield 1 adalah sebuah game yang sangat rewarding.
Ada banyak hal lain yang bisa saya bahas di Battlefield 1 seperti peran penting mengendalikan tank atau pesawat jika kamu ingin keluar sementara dari peran utama kamu, atau bagaimana tempat nyaman kamu untuk menembak tiba-tiba dihancurkan oleh pesawat yang jatuh tepat di atas kepalamu. Namun sepertinya kamu harus mempercayai kata-kata saya bahwa multiplayer Battlefield 1 sangatlah megah dan mempunyai aura perang yang tidak ada di FPS pada umumnya.
Saya harus mengakhiri review Battlefield 1 ini dengan kesimpulan bahwa game ini adalah sesuatu yang matang, realistis, dan dapat menghadirkan kengerian peperangan secara tepat.
Walaupun mode single player di game ini relatif dapat dimainkan semua orang, mode multiplayer yang ada akan membutuhkan waktulebih panjang untuk dapat dikuasai. Tapi, jika kamu berhasil mencapai titik itu, maka Battlefield 1 akan menjadi game yang sangat rewarding dan mempunyai kelasnya tersendiri. Sangat direkomendasikan bagi mereka yang ingin mencari sebuah pengalaman perang yang autentik.
Origin: Battlefield 1, US$69,90 (sekitar Rp940.000)
PlayStation Store Asia: Battlefield 1, Rp758.000

0 komentar:

Posting Komentar